Skriftualisme Beragama

0 0
Read Time:2 Minute, 30 Second

Fundamentalisme merupakan gejala keagamaan yang bisa lahir dari semua agama dimana dan kapan saja. Oleh karena itu dikenal istilah: fundamentalisme Islam, fundamentalisme Hindu, fundamentalisme Kristen dan seterusnya.(E. Marty dan Appleby 1999:108).

Terkungkung teks atau skriptualis memaknai teks suci apa adanya, tanpa melihat kronologis teks suci itu muncul (sababun al – nuzul dan sababul wurud).

Berikut merupakan narasi fundamentalis didasarkan atas teksuci:

“Cintailah Tuhan mu dengan sepenuh hati dan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terbesar dan pertama. Dan perintah yang kedua adalah sebagai berikut: cintailah tetangga mu sebagai kamu mencintai dirimu. Pada dua perintah inilah seluruh hukum dan nabi bersandar”. (Matius 22:37-40).

“Mereka mengorbankan anak laki-laki dan anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat” ( mazmur 106:37)

“Apakah aku mencari keridhaan manusia ataukah keridhaan Tuhan? Akankah aku mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukan lah budak Kristus”. (Galatia 1:10)

“Dalam perjuangan mu melawan Dosa, kamu jangan ragu untuk menumpahkan darahmu”. (Ibrani 12:4)

“Orang yang membunuh orang lain masuk neraka, menjadi hantu kelaparan, atau binatang, kecuali kasus para pelanggar Dharma” (Nichieren mengutif Budha).

“Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai…..” (al-Baqarah, 2:190-191).

Hanya ada satu jalan menuju keselamatan;semua bentuk agama lain adalah tipuan dari setan. Ekslusivisme kaku yang terwujud dalam pandangan bahwa ” kristen adalah satu-satunya kebenaran” merupakan fondasi bagi munculnya tribalisme. Begitu juga penganut agama selain Kristen.

Struktur dan doktrin agama dapat digunakan hampir seperti senjata. Shakespeare “bahkan Iblis pun dapat mengutip ayat demi mencapai segala tujuannya” Eksploitasi manipulatif atas teks tertentu dapat mengarah pada kepanatikan yang menyimpang.

Dampak dari pembacaan teks suci yang sepotong -sepotong berdampak sempit beragama. Sehingga mereka menjadikan agama sumber masalah. Padahal agama awalnya hadir sebagai solutif sekaligus restorasi nuansa kehidupan era itu.

Ini bisa dilihat bagaimana nabi Ibrahim as, Nabi Musa as membangun peradaban baru mengangkat harkat derajat kemanusiaan. Pun Nabi Isa juga Nabi Muhammad saw membawa bendera cinta juga menjunjung tinggi harkat derajat kemanusiaan.

Para nabi dan rasul Allah merupakan marketing profesional menawarkan keselamatan dunia dan akhirat dengan cara-cara terhormat. Bukan tipuan atau pemaksaan dibarengi kekerasan.

Melihat sejarah bangsa kita Indonesia, spirit keagaman menjadi pemersatu anak bangsa, sehingga menggapai Indonesia merdeka. Spirit keagamaan yang benar melahirkan kecintaan pada bangsa dan negara.

Agama menjadi lokomotif pemersatu, hidup rukun dalam perbedaan. Agama dan pembacaan agama yang benar tidak mengajarkan atau mengukur keimanan individu atau pribadi untuk ditampilkan ke muka sebagai paling segalanya sehingga diluar dirinya salah dan juga sesat.

Keyakinan kuat akan agama yang dianut itu pokok dasar agama, dan ini perlu ditanam dalam diri dan perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Tetapi keyakinan sendiri bukan untuk mengukur keyakinan orang lain yang bersifat transenden, sehingga memaksa mereka agar mengikuti kita.

Mengajak atau berdakwah itu, dengan jalan hikmah bukan mencaci, mencemo’oh bahkan mengintimidasi. Sehingga sering terjadi mengganggu orang sedang salat, kebaktian, menyegel rumah ibadah dan lainnya. Karena
teladan kita para nabi Yang agung tidak pernah mengajarkan yang demikian.

Wallahu a’lam

 

Penulis: Aa Bass

  • Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tangerang
  • Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Banten

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *