Satu Dekade Kepergian Gus Dur

Satu Dekade Mengenang Gus Dur
0 0
Read Time:4 Minute, 15 Second
Gus Dur banyak dibaca, diamati, dan bahkan ditafsirkan banyak orang atas apa yang diucapkan.

Oleh: Akhmad Basuni
Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tangerang.

 

Indonesia terdiri atas beragam etnis, bahasa dan agama, penduduknyapun tersebar di ratusan pulau. Tidak kurang dari 13.000 pulau tesebar diwilayah Nusantara, terentang dari Aceh di ujung barat sampai Papua di ujung timur, dengan jarak lebih dari 5000 kilometer, dihuni oleh lebih 200 etnis yang berbeda-beda lengkap dengan 500 bahasa local, puluhan keyakinan keagamaan dan kepercayaan, ratusan tradisi yang kesemuannya terhimpun dalam rumah besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tak heran Jika Allah sang Maha Agung menganugerahkan banyak bijak bestari dinegeri zamrud katulistiwa ini, sebut saja ada Mpu Tantular, Ronggo Warsito,H.O.S Cokro Aminota, Soekarno sampai Gus Dur. Kesemua tokoh tersebut mewakili banyak tokoh multicultural. Dimana pemikiran-pemikirannya melintasi dinding pemisah sekat etnik dan keyakinan berlaku sepanjang zaman.

Gus Dur seorang santri dan anak Kiyai, mewarisi darah biru tokoh besar pergerakan Islam Nahdlatul Ulama Syeikh Hasyim Asya’ri. Dari itu Gus Dur secara psikologis memiliki kepercayaan diri yang kuat sebagai seorang anak dan melekat hingga dewasa. Bagi Gus Dur tak ada istilah putus asa. Ini bisa dilihat bagaimana sikap Gus Dur ketika dilengserkan dari kursi kepresidenan oleh MPR yang diotaki Amin Rais.

Memahami Gus Dur Ibarat sebuah teks begitu kata santri Ideologisnya yang kini jadi Dubes Indonesia untuk Saudi Arabia (Agus Maftuh Abegebriel “Mazhab Islam Kosmopolitan Gus Dur” sebuah pengantar buku Gus Dur “ Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, 2007).

Gus Dur banyak dibaca, diamati, dan bahkan ditafsirkan banyak orang atas apa yang diucapkan. Memahami Gus Dur tentu saja tak bisa lepas dari apa yang tampak secara kasat mata. Layaknya memahami pikiran seseorang, prisma dan sikap Gus Dur harus dibaca secara utuh dengan menemukan bingkai kontekstualisasi pemikirannya atau dengan bahasa lain, memahami Gus Dur tidak secara harfiah dan nassiyah saja, akan tetapi juga konstruksi pikirannya.

Berbagai peristiwa yang dialaminya sejak ia berkiprah menjadi santri di pondok pesantren hingga menjadi Presiden RI di istana, tidak lain merupakan episode-episode perjuangannya yang dilalui dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Sejarah yang menyertai kehidupannya tentu saja tidak tunggal, ada banyak factor yang mempengaruhinya, sehingga menemukan sisi kontekstualnya sebuah ucapan, sikap dan tindakan politiknya.

Greg Barton (2002), Gus Dur telah mengarungi perjalanan keilmuan singgah di Al- Azhar Universitas tertua di dunia, lebih tua 1000 tahun dari Universitas Hebron di Eropa. Dari Mesir melanjutkan ke negeri 1001 malam Bagdad. Mesir dan Bagdad dua kota yang telah menambah berkilaunya pemikiran Gus Dur.

Karena di dua kota peradaban itu Gus Dur bersentuhan dengan berbagai isme baik ideologi kiri maupun kanan disamping menikmati kekayaan literasi sastra kelas dunia. Tidak Cuma itu, Gus Dur pun membaca literasi tradisi helennistik hingga sufistik yang telah digugah kebahasa Eropa,terutama tentang ethicnya Al- Ghazali.

Etika yang dipelajari Gus Dur telah menanggalkan semua bentuk sectarian, primordialisme, semuanya melebur dalam bingkai universalisme. Bagi Gus Dur semua agama (dalam hal social), isme-isme memiliki titik temu dan sepakat dalam nilai keadilan, kemanusiaan serta kasih sayang.

Gus Dur telah mengajari terutama generasi muda NU nilai luhur agama. Dalam kerangka praktisnya, Gus Dur mengambil paradigma substantive dalam memposisikan hukum Islam. Artinya , akomodasi hukum Islam kedalam hukum nasional, berkisar pada prinsif nilai-nilai universal hukum Islam.

Gus Dur menyarankan agar logika al-qawa’id al- Fiqhiyah, dan kaidah-kaidah ushul fiqh dijadikan metode dalam pengambilan hukum. Ini dilakukan, mengingat bahwa perkembangan zaman dari waktu-kewaktu mengalami perubahan.

Memahami agama bagi Gus Dur tidak terpaku pada teks, melainkan konteks. Gus Dur mengatakan bahwa Islam bukanlah sesuatu yang statis, dan ajaran Islam bukan sesuatu yang sekali jadi sehingga tak membutuhkan reformulasi reaplikasi. Dengan kata lain, pengembangan hukum Islam pada dasarnya harus selalu diterjemahkan secara kontekstual.

Atas dasar dinamisasi memahami teks wahyu Ilahi, Gus Dur memberikan formulasi pemikiran Islam ala Indonesia dengan istilah “Pribumisasi Islam”. Yaitu manifestasi kehidupan Islam belaka, bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya.

Sepulang dari pengembaraan Ilmu, Gus Dur tidak membuat pesantren sebagaimana umumnya alumni Timur – Tengah. Tetapi Gus Dur aktif di PBNU. Di NU Gus Dur benar-benar melakukan reformasi pemikiran besar-besaran.

Sehingga NU dibawah besutannya seakan meniggalkan “Tradisionalnya” kajian di NU tak sebatas Ushuluddin, melainkan pemberdayaan ekonomi keumatan dan membuka ketabuan dalam berpikir. Gus Dur sebagai pembawa pembaharuan pemikiran bagi generasi muda NU dalam kebebasan berpikir, atau berpikir merdeka dengan tanpa harus tercerabut dari asas pokok-pokok ajaran ordonansi Islam itu sendiri.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap arus sectarian atau politik identitas, Gus Dur pada tahun 1991 mendirikan Forum Demokrasi, bersama 40 tokoh yang sepaham tentang pluralism dan demokrasi, diantaranya Marsilam Simanjuntak.

Bagi Gus Dur hanya dengan demokrasi nilai-nilai Islam dapat ditegakkan ditengah-tengah masyarakat yang plural. Pendirian Forum Demokrasipun sebagai tandingan ormas ICMI bentukan pemerintah. ICMI bagi Gus Dur hanya akan menyuburkan primordialisme dan sektarianisme berbau agama.

Satu decade Gus Dur telah berpulang kerahmatullah, kini Gus Dur patut berbangga di sana dalam ketenangan abadi, karena kini negeri tercintanya benih pemikiran yang telah ditaburkan tumbuh berkembang mewarnai mozaik Indonesia.

Beratus santri ideologis gigih dan berdisiplin dalam ragam pengetahuan mengkampanyekan nilai-nilai kebhinekaan dalam balutan pluralisme dan demokrasi. Mengokohkan rasa nasionalisme dalam rasa pribumisasi Islam.

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *