Mengulik Pernyataan Ketua BPIP “…agama musuh Pancasila…”

0 0
Read Time:1 Minute, 33 Second

Oleh Akhmad Basuni

(aa Bass)*

 

Pernyataan tersebut merupakan pernyataan seksi bagi kerja jurnalistik yang ingin mendulang banyak penikmat berita. Agama dalam kacamata sosiologi memang sesuatu yang sangat seksi di samping “sensitif” bagaimana tidak sensitif sekumpulan petani saja bisa mengamuk dalam tragedi geger Cilegon (1888) itu salah satunya dipicu sensitifitas agama.

Pun Ahok jadi pesakitan dalam tahanan Brimob itupun dipicu mengutak- atik sensitifitas agama. Sehingga memunculkan gerakan 212.

Sang Profesor seakan ingin memantik perdebatan yang seakan belum usai antara agama dan pancasila (khususnya bagi ormas minoritas) yang jelas-jelas anti pancasila.

Ini kalau mau jujur. Bahwa ada kelompok kecil yang memang anti pancasila, menganggap pancasila sebagai kuffur.

Pancasila bagi Ormas NU disusul kemudian Muhammadiyah sama sekali tidak bertentangan dengan agama.

Lantas bagaimana dengan ormas lain yang menjadikan agama sebagai jargon?
Bukankah dilapangan masih ada yang menginginkan mengganti dasar negara dengan dasar keagamaan?
Sehingga saat orde Baru pun ada gerakan bawah tanah semisal NII.

Era reformasi saat keran kebebasan dibuka ormas transnasionalpun berani unjuk gigi sehingga tanpa risau HTI mengkampanyekan pancasila Thogut.

Begitu kira-kira jika menggunakan analisis hermeneutika sosial. Tidak sebatas melihat “ucapan”melainkan konteks yang disasar.

Jika menganalisis tanpa menggunakan konteks tentu ucapan itu sangat menyesatkan. Karena Pancasila sebagai local wisdom sama sekali tak bertentangan dengan esensi agama.

Ketua BPIP itu religius karena dirinya disamping Rektor perguruan Tinggi Islam juga pemimpin pesantren thoriqoh.
Berdasarkan pengakuannya sudah 30 tahunan rutin melaksanakan salat hajat. Sebagaimana wawancara di blakblakan detik.com.

Bagi dunia akademisi pernyataan itu wajar karena memang dalam rangka perdebatan untuk mengasilkan kesimpulan besar yang tak mudah runtuh oleh argumetasi dangkal.

Kesimpulan Besar ada setelah mengalami perdebatan pro dan kontra. Lagi-lagi Pro Dan kontra didunia akademis bukan sesuatu yang tabu dan haram.

Tetapi tradisi akademik seperti itu tak berlaku di kampus biasa. Hanya ada dikampus yang memang untuk menjaga tradisi krilmuan dan kebebasan berpikir.

*aa Bass
Ketua Lakpesdam Kab. Tangerang

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *