Mengenal Sosiolog Banten

0 0
Read Time:7 Minute, 6 Second

Banten dulu merupakan kota pelabuhan International. Menurut catatan Cornelis de Houtman, pemimpin VOC yang menyinggahi Banten, menyatakan kurang lebih terdapat 36 bendera kapal asing yang bersandar di Pelabuhan Banten saat itu (Memahami Aspirasi Masyarakat Banten, 2002). Berbicara Banten, kata Prof. Tihami tidak akan ketinggalan tentang penomena Kiyai dan Jawara, dua frominent yang tak pernah terlewatkan. Era dulu penomena kiyai yang jawara mudah ditemui,kini seiring waktu mengalami pergeseran.

Banten penomenal memang didukung fakta dan data. Abad 18 di Banten telah lahir seorang Ulama kenamaan yaitu, Syeikh Nawawi al-Bantani populer di jazirah Arabia menyandang gelar ”Syaidul Hijjaj”menjadi guru dari guru belahan benua Asia- Africa. Dan merupakan salah satu sanad tradisi keilmuan jaringan ulama Nusantara. Termasuk guru dari pendiri ormas terbesar dan berpengaruh di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

Tahun 1888 di Banten terjadi ”geger Cilegon” kejadian itu melahirkan diksi baru “amuk” istilah tersebut merujuk pada penomena geger Cilegon. Amuk merupakan batas kesabaran terakhir masyarakat Banten dalam menyingkapi permasalahan yang prinsifil.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengemukakan penomena lain tentang Banten yang penomenal itu. Yaitu menyangkut manusia Banten kini. Manusia Banten hidup bertebaran di bumi nusantara bahkan berdiaspora di mancanegara. Jika kita membuka Google Scholar dan kemudian mengetik “sosiologi hukum Islam” pasti akan muncul nama Mohamad Atho Mudzhar.

Mohamad Atho Mudzhar, lahir di Serang 20 Oktober 1948. Pendidikan formalnya dimulai pada Sekolah Rakyat dan madrasah Ibtidaiyah al-Khairiyah Citangkil sekaligus (dua-duanya) tamat pada tahun 1961. Kemudian melanjutkan ke sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 tahun sampai selesai pada tahun 1966. Dari PGAN, melanjutkan belajarnya ke Institut Agama Islam Negeri (lAIN) Jakarta, Fakultas Syari’ah pada jenjang Sarjana Muda (BA), lulus pada tahun 1971.

Sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan S1, Mohamad Atho Mudzhar sempat mengajar di PGAN Cijantung, Jakarta Timur, selama 4 tahun, dari tahun 1972 – 1975.Tidak puas sampai di situ, dia melanjutkan kembali pendidikannya ke jenjang S1, Sarjana Lengkap, hingga lulus pada tahun 1975. Akhir tahun 1975, dipindah-tugaskan ke Badan Litbang Departemen Agama Jakarta Timur.

Pada tahun 1977, mengikuti program latihan penelitian ilmu-ilmu sosial di Universitas Hasanudin, Ujung Pandang. Pendidikan program Master (S2) dan doktornya ditempuh di luar negeri. Program S2-nya diselesaikan pada tahun 1981 dengan memperoleh gelar Master of Social Planningand Developmentdi University of Quensland, Australia dengan predikat pujian (cum laude). Sedangkan program doktornya (S3) diselesaikannya pada tahun 1990 pada Department Islamic Studies, University of California, Los Angles, USA.

Dari pengembaraan intelektualnya menjadikan Mohamad Atho Mudzhar termasuk seorang pakar intelektual dalam bidang sosiologi Hukum Islam sehingga membawa dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar Sosiologi Hukum Islam yang merupakan karir tetinggi dalam dunia akademik.

Buku pertamanya, Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998). Dalam buku ini Atho Mudzhar menguraikan pandangannya tentang perjalanan sejarah hukum Islam yang di dalamnya faktor sosial budaya mempengaruhi corak produk-produk hukum Islam, baik yang berbentuk fiqh hasil ijtihad, peraturan perundangan di negeri Muslim, keputusan peradilan maupun fatwa-fatwa ulama. Oleh karena itu, hasil dari pemikiran atau produk hukum Islam tidak terlepas dari kontribusi sosial-budaya dimana ulama dan pemikir-pemikir Islam itu berada.

Walaupun dalam kaitannya dengan produk hukum yang ada dalam al-Quran dan Hadist mengaturnya dalam ayat-ayatnya, tetapi tidak bisa menjawab semua persoalan yang kompleks dalam setiap umat manusia. Maka untuk mengisi kekosongan produk hukum tersebut para ulama telah menggunakan akalnya dan menghasilkan produk pemikiran hukum Islam yang ada saat ini Sehingga berimplikasi pada corak yang hari ini ada sebagai kajian telaah terhadap keberanian para ulama untuk menghasilkan produk hukum dalam setiap persoalan yang ada di masyarakat.

Dari sejarah peradaban pemikiran produk hukum tersebut, usaha reaktualisasi hukum Islam atau ijtihad para ulama harus terus bergulir sesuai dengan kondisi zaman. Seperti dalam bidang hukum keluarga, perkawinan dan waris atau dalam bidang lain seperti reaktualisasi dalam bidang muammalat.Tak ayal, jika didalamnya melahirkan kontroversi yang ada di masyarakat. Tetapi tradisi tersebut tidak akan punah sampai akhir hayat (kiamat) karena berada pada jalur ijtihad umat manusia. Kondisi ini akan terus berkembangan seperti dalam hal sisi hukum poligami, peradilan dalam hasil pengadilan, persoalan anak angkat, dan Indonesia merupakan Negara yang plural membutuhkan reaktulisasi hukum yang sesuai dengan konteks zaman.

Diantara pemikiran-pemikirannya mengenai hukum Islam terdapat dalam masalah fiqih. Menurut Prof. Atho, reaktualisasi hukum Islam dapat dilakukan dengan pemberdayaan fiqih. Dalam mengkaji fiqih, seseorang perlu terlebih dahulu membedakan antara ad-din (agama Islam) dengan al-ajkar ad-diniyah pemikiran keagamaan Islam). Karena masih banyak anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa fiqih Islam itu identik dengan ad-din (agama/hukum Tuhan), seperti halnya al-Qur’an dan as-Sunnah.

Hakikat fiqih Islam merupakah hasil ijtihad (kerja keras) seorang mujahid (ilmuwan) dalam memberikan kepastian hukum bagi masalah yang tidak terdapat-secara tekstual di dalam al-Qur’an maupun al-Hadith. Singkatnya fiqih merupakan produk pemikiran manusia yang dapat berubah sesuai perubahan zaman, situasi dan kondisi tertentu yang menuntutnya. (lihat, Al-Makin (Editor) Mengenal Para Pemimpin Pascasarjana, Pascasarjana Universitas Islam Sunan Kalijaga 2014).

Studi Islam dengan pendekatan Sosiologi menurut Prof. Atho, setidaknya dapat terbagi kepada lima Tema: Pertama, Pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat. Tema ini selaras dengan Emile Durkheim yang mengenalkan konsep fungsi sosial agama. Dalam studi ini Islam mencoba memahami seberapa jauh pola-pola budaya masyarakat (misalnya menilai sesuatu baik atau tidak baik) berpangkal pada nilai agama, atau seberapa jauh struktur masyarakat (misalnya supremasi kaum lelaki) berpangkal pada ajaran tertentu agama atau seberapa jauh perilaku masyarakat (seperti pola berkonsumsi dan berpakaian masyarakat) berpangkal tolak pada ajaran tertentu agama.

Kedua, studi tentang pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran agama atau konsep keagamaan, seperti studi tentang bagaimana tingkat urbanisme Kufah telah mengakibatkan lahirnya pendapat-pendapat hukum Islam rasional ala Hanafi atau bagaimana faktor lingkungan geografis Basrah dan Mesir telah mendorong lahirnya qawl qadîm dan qawl jadîd al-Syâfi’î.

Ketiga, studi tentang tingkat pengamalan beragama masyarakat. Studi Islam dengan pendekatan sosiologi dapat juga mengevaluasi pola penyebaran agama dan seberapa jauh ajaran agama itu diamalkan masyarakat. Melalui pengamatan dan survey, masyarakat dikaji tentang seberapa intens mengamalkan ajaran agama yang dipeluknya, seperti seberapa intens mereka menjalankan ritual agamanya dan sebagainya.

Keempat, studi pola sosial masyarakat Muslim, seperti pola sosial masyarakat Muslim kota dan masyarakat Muslim desa, pola hubungan antar agama dalam suatu masyarakat, perilaku toleransi antara masyarakat Muslim terdidik dan kurang terdidik, hubungan tingkat pemahaman agama dengan perilaku politik, hubungan perilaku keagamaan dengan perilaku kebangsaan, agama sebagai faktor integrasi dan disintegrasi dan berbagai senada lainnya.

Kelima, studi tentang gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menunjang kehidupan beragama. Gerakan kelompok Islam yang mendukung paham kapitalisme, sekularisme, komunisme merupakan beberapa contoh diantara gerakan yang mengancam kehidupan beragama dan karenanya perlu dikaji seksama. Demikian pula munculnya kelompok masyarakat yang mendukung spiritualisme dan sufisme misalnya, yang pada tingkat tertentu dapat menunjang kehidupan beragama. (lihat M.Rasyid Ridla, Al-Ihkam Vol.7 No.2 Desember 2012).

Secara garis besar pemikiran Prof. Mohamad. Atho Mudzhar lebih identik dengan ide pembaharuan dalam konsep hukum Islam. Dimana hukum Islam bidang fiqh-harus sesuai dengan konteks zaman. Walaupun dalam al-Qur’an dan Hadist menjadi pedoman dalam penentuan tema pokok untuk mengeluarkan fatwa ulama, tetapi tidak cukup berhenti sampai di sana. Maka butuh reaktualisasi hukum Islam untuk dilakukan melalui pemberdayaan fiqh pemahaman.

Sehingga ada tiga tipologi pemikiran Prof. Atho yang mejadi ide dan gagasan yang paling fenomenal diantaranya: Pertama, fiqh dipahami sebagai produk pemikiran manusia yang diposisikan sebagai perangkat untuk menyelesaikan masalah-masalah ibadah, sosial dan kehidupan manusia pada umumnya. Karena itu fiqh harus dinamis dalam merespon fenomena-fenomena sosial, bila Islam tidak ingin dianggap seperti baju yang akan dipakai jika dibutuhkan. Kedua, umat Islam secara tegas dapat membedakan antara addin dan al-ajkar al-diniyah.

Sementara beberapa kalangan umat Islam di dunia seringkali tidak bisa membedakan antara ad-din dengan alajkar ad-diniyah.Mereka sering keliru menganggap fiqh sebagai ad-din (hukum tuhan) sebagaimana layaknya As-Sunnah dan Al-Qur’an. Padahal hakikat fiqh adalah bagian dari al-ajkar ad-diniyah yakni merupakan hasil kerja keras pemikiran mujtahid dalam memberikan kepastian hukum bagi masalah yang tidak ditemukan nash hukumnya secara qath’i baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Adanya kecenderungan elevasi (peningkatan) kedudukan bagi fiqh dikarenakan tidak adanya kesadaran umat Islam bahwa fiqh merupakan produk pemikiran manusia yang bias saja mengalami perubahan karena berubahnya situasi dan kondisi. Ketiga, wahyu tetap dijadikan sebagai acuan hukum Islam (fiqh) dan tidak ada ker.mcuan persepsi terhadap fiqh, hal ini menjadikan pemikiran hukum Islam berada di antara kekuatan akal dan wahyu yang saling tarik menarik dan akibatnya sulit dibedakan antara pengaruh sosio-kultural dan politik terhadap hukum Islam.

 

Penulis: Aa Bass

  • Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tangerang
  • Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Banten

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *