Dari Santri Untuk Negeri

0 0
Read Time:5 Minute, 44 Second

koleksi pribadi

Santri dibelahan dunia mana pun diksi tersebut tak dikenal, selain di Nusantara. Santri itu generik nusantara, berbeda dengan “ustadz”, dan “ulama”. Merujuk pada Kamus umum bahasa Indonesia karya JS. Badudu Pertama santri diartikan “orang yang pergi belajar dan mendalami agama pada suatu lembaga pendidikan khusus (pesantren). Kedua dimaknai juga orang yang alim dan banyak melakukan ibadah serta banyak ilmunya (ilmu agama).

Azyumardi Azra guru besar peradaban Islam , UIN Jakarta mendefinisikan santri dengan orang yang mempuni dalam ilmu agama islam. Istilah santri dalam bahasa akademik menurutnya dari “santrization” atau santrinisasi dari trikotomi yang di petakan antropolog kenamaan Clifford Geertz. Santrinisasi juga disebut sebagai sebuah kebangkitan Islam.

Santri dalam belajar memulai dari nol, sebelum belajar Bab Jihad dan Bab Imamah kepemimpinan.
Santri belajar nahu dan sharof Ilmu gramatika bahasa Arab. Belajar akidah racikan Asyariyah –Maturidiyah. Sehingga tertanam kokoh tentang sifat wajib bagi Allah, mustahil, dan jaiz. Demikian juga sifat wajib bagi rasul, mustahil dan jaiz. Semuanya itu terangkum dalam lafadz لا اله الا الله محمدالرسول الله . Kitab standar dasar pondok pesantren di Nusantara terkait aqidah merujuk pada Qotrul ghoais juga “Fathul Majid”ada juga yang perpaduan aqidah dan fiqh seperti Riyadul Badiyah. Fiqh dasarnya ‘Fathul Qorib’. Belajar haditsnya terkait keutamaan ibadah merujuk tangkihul qaul.

Ahlaknya merujuk tak’lim mu’taklim di samping nashoihul ibad. Rujukan Nahu shorof nya al- awamil, al – jurumiyah, Nadom maqsud imriti juga mulhatur’irab, disamping al-fiyah ibn malik.
Dan uniknya semua pesantren di nusantara merujuk kitab syeikh Nawawi al- Bantani. Baik fiqh, tauhid maupun tafsir dengan ciri khas menggunakan bahasa jawa dalam memaknai arti kata sesuai kedudukan (fi’il, fa’il dan maf’ul atau mubtada dan khobar).

Demikian juga dengan metode disenyalir sebagai satu kesatuan ikatan antara guru dan murid sehingga membuat jejaring ulama nusantara dalam corak pemahaman keagamaan moderat. Karena diketahui semua tokoh terkemuka ulama nusantara bersanad ke Syeikh Nawawi al Bantani. Sebut saja dua tokoh seperti Hadratus syaikh Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan.

Syeikh Nawawi eksis manakala dominasi pemahaman keagamaan tekstualis alias literal belum melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Turki Utsmani. Dari itu ulama Nusantara aktif mengajar bahkan menjadi guru besar di Mekah, murid – muridnya datang dari seluruh belahan bumi, Asia, juga Afrika. Tak heran jika sang Syeikh digelari sebagai Saidul ulama Hijaz.

Santri diajarkan ideologi keislaman sedari awal geonolisnya moderat. Baik itu menyangkut fiqh ataupun akidah. Sehingga dalam aktualisasi keseharianpun moderat mudah diterima oleh semua kalangan.
Kenapa geonologis moderat? Faham Aqidah Asyariah -Maturidiyah hadir sebagai formulasi dari pertentangan berdarah-darah antara jabariyah dan mu’tazilah. Faham Jabariyah diadopsi khowarij kini dikembangkan oleh wahabi salafi takfiri juga hizbu tahrir. Tak aneh jika kelompok ini menentang vaksinasi balita.

Sementara Mu’tazilah diadopsi kaum modernis terdidik dan golongan ini yang mengenyang pendidikan tradisional islam dan modern. Yang cukup diperlukan kejelian adalah corak pemahaman keagamaan berorientasi mazhab fiqh. Kenapa demikian?. Kaum jabariah, wahabi dan seideologisnya memahami syariat begitu tektualis sehingga kekakuan dalam beragama begitu kentara dan paling menonjol lebih mengedepankan simbolisme daripada substansi. Sehingga golongan ini mudah didentifikasi. Sementara tradisi santri pun kaum terdidik modernis. Memandang fiqh itu dinamis
Karena para imam mazhab sebagai pendahulu dalam memahami syariat begitu dinamis. Sehingga fatwa yang dihasilkan selaras dengan nilali luhur kemanusian. Ini bukan tanpa alasan, melainkan islam dimaknai secara substansi bukan simbolisme apalagi Arabisme. Bagi kaum santri memakai baju batik ataupun gamis tidak ada persoalan apalagi masalah. Karena baju identik dengan budaya.

Adapun yang terkait sunnah syar’i itu jelas seperti salat rawatib, duha, tahajud witir dan lain sebagainya. Ahli ushul mengatakan sunnah itu yg ada kaitannya dengan ibadah, sementara yang terkait kebiasaan insani biasa sama sekali tidak ada hubungan dengan syariat. Dari itu ada istilah dalam ulumul hadits tasyr’i dan ghair tasyr’i.

Tradisi santri tak latah mengobral fatwa murtad, kafir. Apalagi jika menyangkut hal muamalah. Karena al-Quran sendiri mengajarkan sebutan atau panggilan sesuai dengan komunikan atau yang di ajak bicara. Sehingga ada : يا ايها الناس ، يا ايها الكافرون ،يا بني ادم، يا اهل الكتاب….
seruan itu terlihat ada kontek penegasan secara privat bertalian dengan akidah dan penegasan secara sosial atau interaksi sosial.

Karena dalam banyak hal juga ayat tidak ada larangan berbuat baik dengan non muslim, dan Rasulullah saw menjadi teladan utama, Rasulullah pun berinteraksi bekerja sama secara muamalah dengan non muslim baik nasrani, yahudi juga Majusi.

Bahkan secara diplomasi Rasulullah ikut bersedih ketika romawi menderita kekalahan. Tradisi santri memelihara marwah islam itu sendiri, islam rahmat bagi semesta. Bukan menampilkan islam marah, arogan, suka kekerasan, dan permusuhan dan perang. Karena Rasulullah lebih memilih berdiplomasi ketika tidak bisa melaksanakan ibadah haji. Bahkan Rasulullah rela mengapus kata “muhamadurrasullah” dengan muhammad bin Abdillah dalam rangka berdiplomasi dengan kafir Quraisy dalam nota surat kesepakatan. Teladan utama Islam adalah Rasulullah yang ahlaknya agung suaranya lemah lembut namun tegas.

Islam tidak diajarkan dengan kebencian dan perang, islam diajarkan dengan budi pekerti dan Argumentasi keilmuan yang tak bisa dibantah akal sehat juga nurani. Jika ada yg mengajarkan islam tetapi bertentangan dengan ahlak dan nurani sehat, sudah bisa dipastikan itu kesalahan memahami Islam. Sebagai mana ISIS salah memahami terhadap islam, pun golongan yang lebih suka menebar teror mengatasnamakan islam. Mencibier karena berbeda dengan golongannya, pun mengkafirkan sesama muslim. Keimanan seseorang hanya diketahui oleh Tuhannya ketika sudah mengucapkan dua kalimat shahadat. Jika hanya nonton film, atau masuk gereja dituduh murtad, kafir. Sungguh di ajaran Islam tidak diajarkan.

Gelora perjuangan santri atas negeri ini begitu berlaku, penuh onak dan duri, berkorban harta benda dan jiwa raga. 22 oktober 1945 yang digelorakan resolusi jihad oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asyari merupakan aktualisasi esensi Islam terhadap rasa cinta Bangsa dan Tanah Air. Berikut merupakan isi resolusinya
“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Imbas dari itu terjadinya Gelora semangat pertempuran 10 November melawan penjajah yang membonceng pada sekutu. Pertempuran 10 November 1945 merupakan bukti kuat elemen bangsa mempertahankan kemerdekaan NKRI. Sehingga 10 November 1945 diperingati Hari Pahlawan. Jika menggali lebih dalam lagi keterlibatan Santri dan Kiyai era kolonial. Pondok Pesantren menjadi basis jejaring anti kolonial, dari pesantren berdiri kepanduan (laskar), dari itu dikenal HIZBULLAH, SUBANUL WATHON, dan ormas kepanduan lainnya. Semua itu digembleng secara fisik dan psikis oleh para ulama dan secara taktis militer oleh veteran PETA bentukan Jepang. Tempat penggemblengan HIZBULLAH itu di Cibarusah. Tokoh penggemblengan spiritual kerohanian saat itu kiyai Wahab Chasbullah. Dari alumni Cibarusah inilah setelah kembali ke daerah masing-masing memgembleng pemuda sebagai Laskar, dan dari sini sesungguhnya cikal bakal TNI.

Tokoh pejuang sekelas Jenderal Sudirman pun sesungguhnya tidak terlepas dari pesantren, sang Jenderal senantiasa berkonsultasi dengan Ulama yaitu Syeikh Hasyim Asyari. Pun Soekarno juga berkonsultasi dengan Sang Syeikh Pendiri Nahdlatul Ulama itu. Dari sedikit ulasan tersebut maka wajarlah jika santri harus berada digarda terdepan merawat NKRI dari rongrongan ideologi yang mengancam keutuhan bangsa.

Wallahu’ alam

Aa Bass.

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *