Corona dan Tradisi keagamaan Pesantren

0 0
Read Time:5 Minute, 7 Second

Dalam sebuah penelitian yang mendalam Zamakhsari Dhofier dalam tradisi pesantren, sesungguhnya pesantren di Nusantara telah eksis pada tahun 1200 M ini ditandai dengan sudah terberbentuknya kesultanan Islam di Lamreh Sumatra.

Dan sebagai kota kosmopolitnya adalah Barus, sekaligus pusat Pendidikan keislaman. Barus sebagai pengahasil minyak wangi berkelas yang di sukai raja dan pangeran-pangeran Arab, Juga Cina. Dari itu bermunculan pemukiman -pemukiman sehingga terbentuk lah apa yang namanya lembaga pesantren.

Pesantren Genuine produk lokal nusantara telah menancapkan secara kokoh faham Ahlisunnah waljama’ah yang berbeda dengan pemahaman islam modern kala itu. Di mana Islam modern kala itu kurang menghargai tradisi keagamaan termasuk mereka menolak tassauf.

Tradisi Pesantren, kyai memahami agama setelah melalui perjalanan panjang nyatri bahasa Zamakhsari Dhofier “santri kelana” atau musafir Ilmu. Dengan perjalanan panjang sebagai santri kelana sudah barang tentu pengetahuan pemahaman keagamaan lebih komprehenshif. Dari satu guru ke guru yang lain sesuai kompetensi keilmuan dari Nahu shorof, hadist, tafsir, ushul fiqh, teologi, Mantiq, dan tassauf.

Dari sini terpacang. Pemahaman keagaman luas sekaligus lentur, karena mendialogkan teks suci juga ordonansi agama dengan konteks sosial. Sementara yg menganggap modern kala itu pemahamannya terpaku kepada al-Qur’an dan Sunnah secara skriptual atau tekstualis, sehingga dengan gampang menuduh kyai-kyai sebagai ahli bid’ah dan Khurafat. Di samping dituduh sebagai Islam Kolot tanpa dasar sebagaimana narasi yang di bangun Deliar Noer.

Tradisi pesantren dalam tauhid berdasar al-Qur’an juga Sunnah serta interpretasi Abu Hassan Al-Asyar’i dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Faham ini menengahi antara Qodiriyah dan Jabariyah. Dalam Hukum menganut tradisi Mazhab, sementara mereka Non Mazhab.

Dan yang paling membedakan ahlusunnah waljamaah Tradisi pesantren dengan kelompok modern kala itu adalah dalam bidang tassauf. Para kyai merupakan pengamal Thariqat. Bahkan salah satu ulama Nusantara mampu menyandingkan thoriqat qadiriyah naqshabandiyah yang berpusat di Makkah kala itu, Sang ulama itu adalah Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Padangan pesantren dalam keagamaan tidak kacamata kuda walaupun dicap sebagai kaum tradisionalis. Padahal dalam ketradisionalisan Kyai mampu meramu antara ajaran agama dan tradisi lokal yang baik. Karena Islam tak menghapus tradisi baik. Dari itu ada ada kaidah ushul Al-adat Muhkamatun. Pun adagium yang sangat populer di kalangan pesantren ” al- muhafadah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”. Memelihara tradisi yang baik dan mengadopsi kebaruan yang mengandung kebaikan.

Berangkat dari situ kaum pesantren yang memiliki tradisi akar sejarah panjang memandang segala sesuatu tidak taken for granted. Tetapi selalu mencari alternatif untuk kemashlahatan umat atau kebaikan umat manusia. Karena esensi agama adalah kemanusian.

Ada memang kewajiban menjaga agama tetapi agama memerintah untuk mendahulukan kemanusiaan juga kasih sayang. Dalan praktik syariah ketika hendak shalat persedian air sangat terbatas karena kemarau panjang maka wudhunya di ganti dengan tayamun sementara air yang terbatas itu untuk minum manusia juga hewan ternak.

Kini seantero jagat terfokus bagaimana menghadapi pandemi Covid-19. Keagamaan yang moderat tentu tidak hanya terpaku kepada keyakinan takdir Tuhan tanpa dibarengi ikhtiar. Melainkan menselaraskan ordonansi agama dengan ketentuan sains yang bersifat faktual dan empiris. Dalam pandang sains pandemi mudah nyebar dalam kerumunan masa, sehingga keluarlah apa yang dinamakan sosial distancing atau phycychal distancing. Sosial distancing sebagai upaya ikhtiar manusia terhindar dari marabahaya yaitu corona.

Dari itu ritualitas ibadah kepada Tuhan pun secara jamaah diubah atau diganti dengan ibadah individu.
Karena ada perintah suci ” janganlah kalian membawa diri kepada kerusakan”

Agama dan sains sesungguhnya bersifat komplementer terlebih diera kini. Karena sains sesungguhnya alat untuk memudahkan insan hidup. Bukankah beribadah jadi mudah denga adanya sains. Dulu untuk berwudhu saja harus ke sumur atau ke sungai. Dengan bantuan sains wudhu tinggal buka kran. Untuk penerangan rumah ibadah pun tinggal pencet saklar. Bahkan kumandang adzan tak lagi harus naik tempat tinggi atau menara sebagaimana bilal mengumandangkan Adzan, kini ada Toa dan micropon nir kabel supercanggih dengan teknologi mutahir.

Menyikapi Corona dengan pemahaman Jabariyah fatalism tentu tak sejalan dengan esensi agama yang berlaku sepanjang zaman. Dalam pandangan keagamaan fatalism mereka tidak patuh pada ayat kauniah tanda alam, atau himbauan pemerintah.

Padahal disamping al-Quran dan hadits ada ayat kauniah alam semesta yang harus di eja, difahami sekaligus dipikirkan. Dari itu ada diksi Qur’an “taqilun, tatadabbarun, ulul al- bab, ulil abshar” dan lainya.

Dengan mendayagunakan segala indera yang telah diberikan barulah insan istiqomah dan tawakal. Bukankah peradaban luhur Umayah dan Abasiyah karena membuka keruang berfikir dari dogmatisme menuju ilmu pengetahuan. Dimulailah penerjemahan besar-besaran tradisi hellenisme, peradaban Yunani. Dari itu dunia islam berabad-abad menjadi mercusuar peradaban bagi dunia termasuk berjasa besar atas peradaban Eropa.

Dengan pandemi Corona yang telah puluhan ribu korban melayang, ratusan ribu terinveksi. Sudah seharusnya merubah cara pandang agama dogmatik ke cara pandang pengetahuan. Karena ideologi tak mengenal ruang dialog karena Sudah taken for granted (terima jadi).

Agama sebagai ideologi hanya akan menjadi fosil peradaban. Ini sesungguhnya hambatan terbesar kaum beragama yaitu menjadikan agama sebagai ideologi belaka. Sehingga agama tak mampu menjawab problematika kehidupan sosial kemasyarakatan, di era industrialisasi apa lagi era digital kini. Tak heranlah jika ada istilah “ the end of ideology” berakhirnya sebuah ideologi.

Ideologi itu bersifat tertutup dan final sehingga tak mungkin berkembang. Penyimpangan dari pembakuan akan disebut “revisionis”, sedangkan ilmu sebaliknya. Ilmu bersifat terbuka , artinya bukan saja berdasarkan kreativitas, tetapi memungkinkan borrowing. Konsekuensi logis untuk eksistensi ideologis, harus mengubah diri dari ideologi menuju cara berpikir ilmu. (Kuntowijoyo(1995).

Dengan mengubah cara berfikir ideologi ke cara berpikir ilmu, dengan sendirinya membumi karena terkait langsung pada realitas sosial. Ada tauhid sosial, ibadah sosial, atau bisa juga ada al-Qur’an berjalan dalam artian teraktualisasi dalam kebiasaan hidup, seumpama bergotong royong, saling mengasihi tanpa sekat-sekat primordialisme.

Dari itu secara tidak langsung menganulir stigma negatif tentang ideologi agama sebagai candu, atau sebuah delusi dari Mark dan Freud.

Tentang Corona pendekatan nya cara berpikir ilmu, bukan semata ideologi agama. Menghadirkan agama sebagai rahmat semesta tentu dengan cara-cara pandang pengetahuan. Antum a’lamu bi umuri dunyakum. Dari itu ada ijtihad disamping ordonansi Qur’an dan Hadits. Ada ayat tersurat kitab suci, juga ayat tersirat berupa alam semesta.

Muara ilmu dari ilahi sekalipun itu tradisi Yunani, bukan kah Hermes dalam tradisi filsafat Yunani begitu dihormati. Hermes tidak lain adalah nabi Idris as. Begitulah ilmu berawal dari yang satu pun ideologi agama. Sementara agama adalah rambu-rambu agar insan sesuai dengan keteraturan.

 

Penulis: Aa Bass
Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tangerang

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *