Banser Dan Tradisi Mandi Kembang

1 0
Read Time:2 Minute, 35 Second

Oleh : Mang Durahim*

Bagi GP Ansor siraman Bunga/Kembang tujuh rupa adalah simbol ungkapan cinta kasih, kesucian, kesetiaan, menghadirkan wangi dan warna indah dalam setia ruang dan waktu. Karena bunga merupakan tanaman yang indah untuk dilihat dan begitu harum baunya. Bunga dalam setiap moment apapun menjadi lambang pemersatu dan kohesiitas berbasis kasih pada seluruh umat manusia.

Selain indah dan harum, bunga ternyata juga menyimpan banyak makna dalam sebuah kehidupan. Makna dari Proses Siram Bunga ini yang merupakan bagian dari tradisi dan ritualitas kaderisasi mampu menjadi wasilah pengukuhan makna simbolik bunga kedalam spirit kader Ansor Banser.

Dalam setiap penutupan acara kaderisasi di Gerakan Pemuda Ansor khusunya Diklat Terpadu Dasar [DTD] selalu melakukan ritualisasi siraman kembang tujuh rupa, tradisi ini dilakukan pada kader Banser-Ansor yang telah mengikuti tahapan diklat dan di ba’iat serta dinyatakan lulus.

Setelah lulus dan sah menjadi kader Banser-Ansor baru prosesi siraman air kembang dilakukan dengan harapan bahwa kader Ansor-Banser mampu merefleksikan niat suci memasuki kawah candra dimuka untuk tabarukan dan pengabdian pada Ansor-Banser yang berada dibawah bendera Nahdlatul Ulama.

Melalui prosesi ba’iat dan siraman kembang tujuh rupa ini Kader Ansor-Banser harus mampu menterjemahkan simbolik maknawi ini dengan meletakan dirinya menjadi kader yang mampu mengharumkan nama organisasi dalam setiap harokah dan pengabdianya ditengah masyarakat, agama dan bangsa.

Lebih jauh sesungguhnya kader Ansor-Banser harus mengerti betul bagaiman posisioning kader dalam Ansor sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama, agar tidak salah dalam meletakan dirinya ditengan pergumulan organisasi keramat ini,

Kalau di refleksikan secara mendalam kita ini sebagai kader Ansor-Banser sesungguhnya hanyalah tabarukan [ngalap berkah] pada para muasis NU yang telah meletakan jalan panjang pengabdian pada agama dan bangsa ini. Para muasis NU telah mendirikan NU dan Banomnya bernama GP Ansor melalui proses trasedental yang kuat dan dawam hingga menjadikan organisasi ini bukan hanya sekedar instrumen aktualisasi duniawi saja tapi merupakan instrumen dalam menuju ukhrowi.

Dengan demikian GP Ansor sebagai anak kandung NU diyakini memiliki kandungan karomah dan harum bunga semerbak menebar ke seluruh kosmos alam maya dan nyata yang telah di rintis para ulama-ulama alim dan berlumur karomah yang perlu didownload oleh para kader Ansor-Banser melalui tabarukan itu sendiri.

Jika ada kader yang merasa bahwa dirinya sedang membesarkan GP Ansor maka bisa dipastikan bahwa mereka sedang ditimpa kesombongan karena sesungguhnya bukan kitalah sebagai kader yang membesarakan Ansor tapi Ansorlah yang telah memberikan jalan dan bau harum bunga bagi kader untuk kehidupan duniawi dan ukhrowi.

Hal ini sejalan dengan dauhnya Khadratusyeh KH. Hasyim Asyari, “Siapa saja yang mengurus NU maka akan kujadikan sebagai santriku dan kudoakan khsnul khotimah”. Ini bukan hanya dauh tapi doa terdalam muasis NU untuk kader yang mengurusi NU. Doa ini diyakini bahwa kitalah yang harus tabarukan pada doa dan dauh ini bukan sebaliknya kita yang merasa membesarkan organisasi Ansor atau NU.

Kita ini bukanlah apa-apa, hanya butiran debu yang menempel di dinding NU, maka dengan cara siraman kembang tujuh rupa ini diharapkan mampu menjadika kita lebih mencintai para muasis yang telah memberikan dan menebar harum bunga berupa kebaikan-kebaika pada kita melalui Ansor-Banser.

*Mang Durahim merupakan nama Gaul  Dari Ketua PW GP. Ansor Banten

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *