Bangga Jadi Warga Indonesia

0 0
Read Time:1 Minute, 50 Second

Kolonialisme memang pahit, wlo telah mengobati dengan politik etis.
Kepahitan teramat ketir itu berupa pembodohan kolosal atas warga bumi putra.
Termasuk mereka menafsirkan budaya dan keagamaan bumi putra dengan selera mereka.
Nusantara bagi mereka kelompok mazhab kolonial menganggap nusantara masyarakatnya sama sekali tak memiliki jati diri atau masyarakat fasif.

Adanya dua kerajaan besar Kutai dan Tarumanegara dan rajanya beragama hindu mereka anggap sebagai hinduisasi India.
Padahal yang terjadi bukan proses Hinduisasi atau adaptasi budaya, melainkan bangsa kita pada waktu itu telah menganut agama Hindu.( lihat, Magetasi, 1896). Lihat juga Jumantara Vol. 01. No.1 Th. 2010.

Karena dalam tataran aplikasi berbeda jauh dengan tradisi hindu India.
Ini menandakan adanya subyektifitas dalam membangun narasi sejarah peradaban Nusantara yang di huni bumi putra.

Padahal abad 7 di nusantara telah terjadi semacam pusat peradaban keagamaan Budha di Nusantara . Para pendeta Budha menerjemahkan kitab suci dari Sansekerta kedalam bahasa Mandarin.

Dinusantara ada kerajaan Ho~ling atau Mataram Kuno yang di perintah oleh CEilendra (Iwamo-to,1980). Era ini dinusantara telah mampan sebagai pusat peradaban dalam penerjemahan dan lebih baik daripada India.

Jadi dengan demikian nenek moyang bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang bodoh. Melainkan dari dulu sudah menjadi mercusuar peradaban.

Jutaan khazanah manuskrif nusantara berada di Eropa belum babad yang tertulis ilmuan Cina semuanya belum intens digali dengan serius dan konsisten dipelajari putra putri bangsa Indonesia.
Belakangan baru tersadar dari mimpi menggali jati diri bangsa.
Sehingga ada yang ahli dalam manuskrif sebut saja prof. Oman Faturahman beliau Guru Besar Uin Jakarta dalam bidang manuskrif Nusantara.

Temuan beliau berdasarkan manuskrif yang terselamatkan di Filifina dan Thailand menunjukkan kalau ulama nusantara menjadi rujukan dalam hal keagamaan. Semisal tidak kama qala Al- Ghazali melainkan kama qala Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili dan seterusnya.

Temuan ini menunjukkan jika Nusantara merupakan pusat peradaban keilmuan sepadan dengan peradaban Islam Turki.

Jadi dengan demikian dealektika Islam nusantara sesungguhnya memiliki akar sejarah begitu kuat mewarnai belahan Asia. Karena memang ulama nya menjadi rujukan.

Dengan temuan ini narasi yang mengatakan nusantara sebagai islam jawa atau Islam pinggir dengan sendirinya porakporanda.
Karena Ulama nusantara berguru bersanad sampai kepada ulama-ulama mutabarah secara tradisi mazhab.

Wallahu a’lam.

Aa Bass Ketua Lakpesdam Kab. Tangerang. Wk. Sekretaris PW GP. Ansor Banten.

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *