Akar Geonologis NU Banten

0 0
Read Time:2 Minute, 57 Second
Pembentukan NU dan penambahan Nama Math' ul Anwar linahdlotil ulama dipertanggungjawabkan kepada HB (hoofd Bistir/pengurus Besar) Mat'laul Anwar di Menes.

Oleh: Akhmad Basuni
Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tangerang.

Lereng Gunung Haseupan Pandeglang Provinsi Banten merupakan saksi bisu, tepatnya Kampung Janaka, di sanalah dilahirkan KH. Mas Abdurrahman putra Kiyai Mas Djamal al-Djanakawi yang lahir pada tahun 1886 Masehi.

Ayahnya K. Mas Djamal al-Djanakawi adalah keturunan Mas Jong dan Agus Ju yang pergi meninggalkan istana menuju lereng gunung Haseupan dalam rangka bergerilya menyusun kekuatan melawan penjajah Belanda.

Kiyai Mas Abdurrahman pernah berguru kepada KH. Sahib di kampung Kadu pinang, KH. Ma ‘mun Serang, Syeikh Asnawi Caringin, syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Ia kembali dari Makkah pada tahun 1910 M.

Kiyai Mas Abdurrahman adalah teman seangkatan Syeikh Hasyim Asy’ ari Tebuireng Jawa Timur, sesama murid syeikh Nawawi Albantani.

Atas saran syeikh Khalil Bangkalan, sewaktu pendirian NU, dianjurkan mengundang para ulama di Nusantara, khususnya para alumni syeikh Nawawi Albantani.

Dengan maksud bermusyawarah bagaimana menyelamatkan kitab-kitab kuning (klasik) khususnya, dan kitab – kitab ahlus sunnah wal jamaah pada umumnya. Pada saat itu dari Banten Hadir antara lain kiyai mas Abdurrahman yang kebetulan saat itu ia mewakili jamaah mat ‘laul Anwar.

Pertemuan tersebut memutuskan diantaranya sebagai berikut, membentuk dan mendirikan Jami’ ah Nahdlatul Ulama (NU), dan bagi yang sudah memiliki nama lembaga ditambahkan linahdlotil ulama, atau Jami ‘ah Nahdlatul Ulama, seperti Jauharotun Naqiyah di Cibeber, al-Khaeriyah Citangkil, dan Nurul Falah di Petir.

Pembentukan NU dan penambahan Nama Math’ ul Anwar linahdlotil ulama dipertanggungjawabkan kepada HB (hoofd Bistir/pengurus Besar) Mat’laul Anwar di Menes.

Di antara ulama Mat ‘laul Anwar saat itu adalah KH. Sulaeman, KH. Ma’ mun Labuan, KH. Muniran Munjul, KH. Abbas Cibaliung, KH. Habri bin KH. Abdurrahman Bahrul Ulum, KH. Ali Husen Mandalawangi, KH. Rd. Sugiri Mandalawangi, KH. Med dan KH Ghozali Petir, dan KH. Halimi Ciherang.

Pada muktamar NU di Malang ke 12 tahun 1937, KH. E. Muhammad Yasin yang diteruskan menantunya, KH. Tb. M. Rusydi bin KH. Tb. Arsyad di tunjuk untuk menyelenggarakan muktamar NU ke 13 tahun 1938 di Menes.

Pada saat NU melaksanakan muktamar di Palembang pada tahun 1952 tiga tokoh ulama Banten yang hadir KH. Amin Djasuta serang, KH. Ayip Muhammad Dzuhri(menantu KH. Tb Ahmad Khotib), dan KH. Uwes Abu Bakar yang saat itu juga menjabat ketua NU Banten.

Salah satu keputusan muktamar Palembang diantaranya NU menyatakan keluar dari Masyumi. Semua urusan Banten menerima dan menyetujuinya kecuali KH. Amin Jasuta yang menolak dan akhirnya ia pindah ke Jami ‘atul Wasliyah yang berpusat di Kota Medan.

Namun, pada perkembangannya KH. Uwes Abu bakar menghapus Linahdlotil Ulama, meskipun demikian para ulama Menes setelah Bahrul Ulum yaitu KH. M. Abdul Latief Nanggorak Menes dan Alumni Al-Azhar KH. Zunaedi bin KH. E. Muhammad Yasin tetap meneruskan Mat ‘laul Anwar linahdlotil Ulama dengan dukungan para ulama dan kiyai tidak kurang dari 80 %.

Sejak saat itu, KH. Uyeh Balukiya Syuja’ I melanjutkan Mat ‘laul Anwar terlepas dari NU. Sedangkan KH. Abdul Latief dan KH. M. Junaedi bin KH. E. Muhammad Yasin melanjutkan Mat’laul Anwar linahdlotil Ulama dengan mengangkat Rais’ Am KH. Tb. Abdul Mu’thi dan KH. Ihya (perintis kemerdekaan yang pernah dibuang ke Digul bersama KH. Tb. Ahmad Khotib). Sedangkan ketua umum tanfidiyahnya KH. Tb. A. Ma ‘ani Rusydi.

Para ulama inilah yang terus menyambungkan dan menghubungkan dengan jejaring ulama dan sanad keilmuan aswaja serta menjaga silaturahmi dengan ulama – ulama santri syeikh Nawawi Albantani dan penerusnya khusus di Banten, seperti Abuya Dimyati.

 

Sumber Feferensi:
Masterpiece Islam Nusantara sanad dan Jejaring Ulama – Santri 1830 – 1945).

About Post Author

Aa Bass

Santri, Alumni Sps Uin Jakarta.Praktisi Pendidikan. Penulis Buku Aktualisasi Pemikiran Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *